Mengisi Ruang Jiwa Anak Kita

Rabu, 17 April 2013


Sebagian besar dari orang tua yang sering membaca buku-buku pernikahan atau parenting pasti tidak asing dengan Ust Mohammad Fauzil Adhim. Beliau banyak menulis buku-buku yang sangat inspiratif . Ayah yang bersahaja ini jadi salah satu penulis favorit bunda.

 Nah, saat blogwalking ke http://keluargasakiafra.blogspot.com bunda  menemukan salah satu tulisan beliau yang menarik tentang anak-anak. Sudah pernah baca sebelumnya tapi selalu senang mengulang membacanya kembali karena tulisan dari Ust Fauzil Adhim ini memang benar-benar mak jleb banget.

Sengaja bunda posting di blog Kanaya supaya menjadi pengingat bunda bahwa anak adalah amanah Allah yang harus dijaga sebaik-baiknya. Tidak hanya menjaga secara fisik tetapi terjaga juga akhlaknya....

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 Mengisi Ruang Jiwa Anak Kita - Mohammad Fauzil Adhim

Waktu kita sangat pendek.

Anak-anak itu tak selamanya kecil. Pada saatnya mereka akan tumbuh menjadi dewasa, mandiri dan berkeluarga. Kalau mereka sudah menikah, tak ada lagi kesempatan bagi kita untuk meniupkan balon, bermain petak umpet, membacakan buku cerita, atau mewarnai bersama. Betapa pun inginnya kita, tak ada lagi waktu yang tepat untuk membuatkan telur ceplok dan menyuapi mereka seraya bercanda dan memuji gambar-gambarnya yang lucu yang lebih menyerupai benang kusut dan lidi berserakan. 

Ya ….., anak-anak itu tak selamanya kecil. Kalau Allah Ta’ala memberi mereka umur panjang, sebelum habis kekuatan kita untuk berjalan denga tegak dan berbicara dengan suara lantang, anak kita yang kemarin merengek meminta perhatian kita itu sekarang mungkin sudah sibuk memenuhi jadwal kegiatannya yang sangat padat. Anak-anak yang menahan tangisnya karena kita tak kunjung mau mendampingi mereka untuk menuturkan cerita, hari ini mungkin kita yang harus belajar menahan diri karena sangat ingin mendengar cerita tentang mereka dari lisan mereka sendiri.
Sungguh, kehidupan kita dan anak-anak kadang seperti pusaran nasib yang sedang dipergilirkan. Saat anak kita lahir, mereka sepenuhnya bergantung kepada kita. Mereka benar-benar amat memerlukan kehadiran kita, sentuhan tangan kita, dekapan ikhlas kita, serta kerelaan kita untuk menatapnya penuh cinta. Inilah saat yang berharga untuk anak kita. Tetapi saat inilah yang justru sering kita abaikan karena boleh jadi kita tidak merasa membutuhkan mereka. Semakin bertambahnya umur, semakin berkurang ketergantungan mereka kepada kita. Mereka mungkin masih memerlukan kita, tetapi karena sudah tidak terlalu tergantung, mereka bisa mengalihkannya kepada orang lain.

Saat usianya memasuki remaja posisi kita semakin lemah
mereka lebih mendengar temannya daripada orang tuanya sendiri
Kata-kata orangtua tak lagi berharga kecuali
jika kita sudah MENABUNG kedekatan dan penghormatan sejak mereka masih balita

Jika anak-anak itu tidak memiliki penghormatan yang tinggi kepada orangtuanya
maka gurauan teman jauh lebih mereka dengar daripada sapaan paling tulus dari orangtua
Jika anak-anak itu tidak memiliki kepercayaan yang penuh kepada orangtua
maka temannya lebih layak untuk diikuti daripada nasihat paling serius dari orangtua.

Secara alamiah anak-anak yang telah memasuki usia remaja memiliki kebutuhan eksistensi
Mereka ingin didengar, diakui, dihargai dan dipercaya
Mereka ingin menunjukkan bahwa dirinya memiliki kemampuan dan hak menentukan.
Mereka akan berontak dari orangtuanya kecuali jika kita selaku orangtua telah
MENABUNG kredibilitas, kepercayaan terhadap itikad baik
dan ketulusan di mata anak-anak kita...
Tak lama lagi mereka akan menikah
Sesudah berlalu masa remaja datanglah masa dewasa
Inilah masa ketika anak-anak yang dulu merindukan bapaknya itu sudah
benar-benar mandiri
Mereka tak lagi memerlukan orangtua kecuali
jika iman menancap kuat di hati mereka
Inilah yang menjadi kekuatan dalam diri mereka untuk
berkhidmat kepada orangtua...

Jadi, sebenarnya mereka berkhidmat bukan karena
sangat besarnya kerinduan dan penghormatan pada orangtua tetapi
karena dorongan untuk meraih ridha Allah 'Azza wa Jalla....

Ya..ya.., zaman berganti masa bertukar, masa berganti. Yang dulu muda sekarang tua. Yang dulu kanak-kanak sekarang dewasa. Yang dulu terlihat gagah, sekarang mungkin sudah renta tak berdaya. Sebagian lagi mungkin sudah lama dikuburkan jenazahnya. Tak ada lagi kekuatannya untuk berbuat, tak ada lagi kemampuannya untuk melakukan perubahan.

Akan tetapi ……..

Mereka yang telah menyemai keyakinan, kebaikan dan kemuliaan, sesungguhnya tetap hidup kebaikannya. Melalui anak-anak yang kuat karakternya, tinggi harga dirinya, besar cita-citanya dan jiwanya senantiasa rindu untuk melakukan amal yang terbaik (ahsanu ‘amala), para orangtua itu sesungguhnya tetap menabung kebaikan meski kafan berselimut kafan. Sesungguhnya tidak ada lagi yang bias diharapkan dari anak-anak sesudah kita mati kecuali keshalihan. Anak-anak shalih yang mendo’akan merupakan harta berharga yang tak dapat digantikan oleh do’a seribu manusia.

Alhasil, shalih dulu baru doa. Seibu tangan yang terangkat untuk mengaminkan doa saat kenduri, tak ada nilainya dibanding bersimpuhnya seorang anak di hadapan Allah ta'ala karena amat besarnya keinginan untuk memohonkan ampunan bagi orang tua. Doa yang diucapkan dengan lantunan indah disertai kalimat yang bersanjak-sanjak, tetapi ia tidak punya hubungan apa-apa dengan yang didoakan kecuali sebagai pendoa suruhan, sungguh tak ada artinya dibanding sebaris permohonan yang diucapkan oleh anak-anak kita sendiri.

Ya..ya..ya.. Shalih dulu baru doa. Shalih itu berkait dengan hati, berhubungan dengan iman, dan penopangnya adalah ilmu. Ia bisa kita semai dengan subur pada jiwa yang tenteram. Cerdasnya otak sama sekali tak bias menolong apabila jiwa mereka hampa. Kosongnya jiwa membuat sebanyak apapun nasihat kita berikan, hanya tersimpan rapi dalam pikiran. Ia tidak memberi pengaruh terhadap tindakan apalagi pada kehidupan yang lebih luas.

Maka, apakah yang sudah kita lakukan untuk mengisi ruang jiwa anak kita?

Sungguh, waktu kita sangat pendek. Anak-anak kita tak selamanya menjadi balita. Mereka akan tumbuh menjadi kanak-kanak, remaja, dan kemudian dewasa. Hari ini mereka memerlukan kita.
 Hari ini mereka amat besar kerinduannya kepada kita.Di antara mereka mungkin ada yang belum kering air matanya karena berharap bisa bercanda, tetapi bapak/ibunya sudah bergegas pergi untuk merebut sebuah kata yang bernama sukses. mereka berlelah-lelah atas nama anaknya, padahal anaknya sedang kelelahan karena menunggu kesempatan untuk bermain bersama bapak/ibunya. Mereka ingin berbincang dan bercanda, meski hanya sebentar. Dua menit saja.

Ya..ya..ya..selagi mereka belum dewasa, belum pula menginjak usia remaja, inilah saat berharga untuk anak kita. Inilah saatnya kita meluangkan waktu kita untuk menyapa mereka, sebentar saja... Inilah saatnya bagi kita untuk mengisi ruang jiwa anak-anak kita. Semoga dengan itu, mereka kelak akan generasi yang kuat jiwanya, besar semangatnya, kokoh imannya dan tak putus-putus doanya untuk kita.

Sungguh, tak akan pernah ada waktu menguati jiwan anak-anak kita, kecuali kita sengaja meluangkannya. Selonggar apapun waktu kita, sama sekali tidak ada artinya jika kita tidak meluangkannya untuk mereka. Begitu pula sebanyak apapun waktu kita bersama anak, tak ada yang bisa kita kerjakan bersama mereka jika kesempatan itu datang semata-mata karena kita tidak punya pekerjaan yang harus diselesaikan. Sebaliknya, di saat paling sibuk pun kita akan bisa menyapa mereka jika kita benar-benar mau melakukannya.

Lalu apakah yang sudah kita lakukan?

 


24 comments

April 17, 2013

subhanallah. betul bunda..terlebih anak itu melihat orangtua sebagai tauladan pertama, apa yg suah kita berikan itu yg akan dia jadikan bekal :) merinding deh

April 17, 2013

Catatan ini akan jadi pengingat kami juga yah bund kalau2 nanti diamanahkan seorang anak :D

April 17, 2013

Mereka ingin berbincang dan bercanda, meski hanya sebentar. Dua menit saja.

Ya..ya..ya..selagi mereka belum dewasa, belum pula menginjak usia remaja, inilah saat berharga untuk anak kita. Inilah saatnya kita meluangkan waktu kita untuk menyapa mereka, sebentar saja...

>> bener bgt bun. kalo anak udah beranjak remaja, udah sibuk ama urusan sekolah, teman-teman, gagdet, hobi dll. ortunya deh yg ribut minta ditemenin ngobrol.

eh jd merasa bersalah ama ortu :(

April 18, 2013

Aku nangis T_T..

April 18, 2013

tentrem ayem baca ini mbk :D
sukaa banget sama kalimat ini :
Shalih dulu baru doa. Shalih itu berkait dengan hati, berhubungan dengan iman, dan penopangnya adalah ilmu. Ia bisa kita semai dengan subur pada jiwa yang tenteram.

Duh kadang kalau lagi sibuk meluangkan waktu 2 menit saja suka bete aku bun hehehe. PAdahal cuma sebentar ya 2 menit itu. Teirma kasih ya sharingnya

April 18, 2013

Mak jleb banget sih.. Pengen nangis bacanya..

Dzaky suka ngajak aku main, tapi karena capek aku suka ogah2an gitu main bareng nyaaa..

Hhuhuhuhu nyesel banget deh... Ga gitu lagi deeehh...

Kangen Dzaky pengen peluk segeraa^^

April 18, 2013

apa kabar bunda..lama ga ktemu nih...
buku bagus yang layak pu konsumsi nih

April 19, 2013

@Rumah Buku Iqroiya jadi pelajaran juga buat saya , berikan yang terbaik untuk anak2 kita yaa

April 19, 2013

@SunDhedidoakan semoga Allah segera mengabulkan harapanmu yaaa

April 19, 2013

@ndutyke iya terasa banget ya mem, sekarang jadi agak jauh sama ortu kaena kesibukan kita..

April 19, 2013

@Andiah Zahrohaku pun begitu...hiks...

April 19, 2013

@Hanna HM Zwaniya itu kalimat yang paling nuncep ke hati

April 19, 2013

@Lidya - Mama Cal-Vinsama sama mba Lid...

April 19, 2013

@Bunda Dzakypeluuk segera de Dzaky, minimal 13 kali yaa...^__*

April 19, 2013

@puteriamirilliseeh mba Pu... dah lama juga ga denger kabarnya..:)

April 19, 2013

Iya kalo udah di rumah sih aku peluk peluk, cium cium juga...

Sekarang aku harus lebih semangat lagi meluangkan waktu untuk Dzaky..

Makasih mbak untuk sharing yang luar biasa ini ^^

Ade Pipit
April 22, 2013

hikssss ... merasa gimana githu. Mengharu biru. Makasih dah di ingatkankan yach.

April 23, 2013

@Bunda Dzakysama sama bundaaa...

April 23, 2013

@Ade Pipitsama sama saling mengingatkan ya piit..

April 24, 2013

Jd pengen nangis....

April 26, 2013

Mba Rina...terharuuu, maknyosss hati baca postingan ini...^^

April 29, 2013

@Lyliana Thiahayuuk nangis bareng

April 29, 2013

@Mrs. Basukiiya ummi... kaya dicambuk yak...

Posting Komentar

terima kasih untuk kunjungannya ke blog Kanaya, semoga bermanfaat dan menjadi inspirasi yaaaa.......

my everything

my everything
kanaya almira hasna. Diberdayakan oleh Blogger.