Menjadi seorang bunda adalah pilihan yang paling menyenangkan. Status terindah dari segala macam status yang ada pada diri saya. Tidak bisa diungkapkan perasaan ini saat Kanaya memanggil, unda... untuk pertama kalinya dari bibir mungilnya, kemudian memeluk dan menciumi wajah saya dengan tatapan mata yang lucu khas anak-anak. Tangisannya membuat saya merasa selalu dibutuhkan, senyumnya membuat lelah tiba-tiba menghilang, sungguh hadirnya membuat hari-hari saya lebih berwarna. Sepertinya hidup ini terasa cukup, dan tidak membutuhkan apa-apa lagi.
Tetapi saya tidak berada di negeri dongeng, saya manusia biasa yang harus menghadapi juga realita hidup dengan berbagai pilihannya. Ketika akhirnya saya memilih menjadi seorang Working Mom, itu bukanlah sebuah keputusan yang mudah. Naluri sebagai seorang ibu tidak bisa dibohongi, saya merindukan untuk bisa menjadi bunda yang setiap saat selalu ada buat Kanaya. Tetapi inilah kenyataan yang harus dihadapi, saya masih harus menjalani peran sebagai ibu pekerja setidaknya untuk saat ini karena suatu alasan yang tidak bisa diungkapkan disini.
Beberapa orang memandang sinis pilihan saya. Teman yang lain menyudutkan dengan kata-kata yang tajam, seorang ibu seharusnya berada di rumah bukan di kantor. Saya menanggapinya dengan senyum karena memang kalimat itu benar adanya, tetapi sekaligus juga dengan perasaan yang bergemuruh karena mereka tidak tahu bagaimana kondisi saya yang sebenarnya.
Menjadi ibu pekerja adalah pilihan yang berat buat saya, meskipun saya selalu berusaha ikhlas dalam menjalankannya. Tidak tahukah kawan, dada sering merasa sesak saat menahan tangis karena merindukan Kanaya. Kaki terasa berat saat pergi ke kantor diiringi tangis Kanaya yang tidak ingin bundanya pergi. Perasaan kadang diliputi keresahan yang dalam saat harus kembali ke kantor setelah cuti beberapa hari, padahal Kanaya belum sembuh dari sakit. Setiap pilihan ada konsekuensinya dan saya selalu berusaha sabar menjalani konsekuensi dari pilihan ini.
Saat ini, mungkin inilah pilihan yang terbaik yang harus saya jalani. Saya tidak ingin melakukannya karena sebuah keterpaksaan. Saya yakin, keikhlasan akan mengantarkan pada hasil akhir yang baik. Saya hanya perlu menata hati dan berdamai dengan perasaan saya sendiri.
Suatu saat, insya Allah, saya pasti akan bisa menikmati celoteh Kanaya sepanjang hari, dan menemani hari-hari Kanaya yang menakjubkan. Menjadi bunda yang selalu ada untuknya. Saya optimis takdir yang akan membawa saya pada harapan itu. Suatu hari nanti, semoga Kanaya membaca tulisan ini dan mengerti bahwa bundanya selalu punya banyak cinta untuknya meskipun untuk saat ini masih harus menjalani peran sebagai ibu pekerja. Cinta yang selalu tumbuh dan tumbuh terus, mengukir di hati dan menetap di jiwa, untuk putri cantik bunda, ….......Kanaya.
"Tulisan ini sebagai Inspirasi untuk Catatan Hati 10 Maret 2012 - @yankmira #1 Giveaway"
















